ASKEB Infeksi Payudara pada Ibu Nifas

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perempuan mendapatkan anugerah untuk dapat hamil, melahirkan, dan menyusui. Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu didunia berhasil menyusui bayinya tanpa membaca buku tentang cara menyusui, bahkan ibu yang buta huruf mampu untuk menyusui bayinya. Kebanyakan perempuan memilih untuk segera menyusui bayinya setelah melahirkan dan pada minggu keenam masa nifas terdapat kurang dari 60 persen perempuan yang masih menyusui bayinya ( Jones, 2002 ).

Persiapan memberikan ASI dilakukan sejak dalam masa kehamilan. Pada waktu hamil payudara akan semakin penuh karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar- kelenjar payudara sehingga terasa tegang dan nyeri. Bersama dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk proses menyusui makin tampak. Hal itu tampak dari payudara semakin membesar, putting susu semakin menonjol, areola mammae semakin menghitam ( mengalami hiperpigmentasi ) dan pembuluh darah semakin tampak. Dalam rangka menyempurnakan pembentukan ASI maka kedua payudara harus diperlakukan sama untuk menghindari terjadinya stagnasi dan tersumbatnya saluran susu serta untuk menghindari kemungkinan infeksi payudara ( Manuaba, 1998).

Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham akan masalah itu, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada anak saja. Masalah dari ibu yang sering timbul selama menyusui dapat dimulai sejak masa kehamilan, pada masa pasca persalinan dini, dan masa pasca persalinan lanjut. Masalah yang sering timbul pada masa kehamilan antara lain kurang / salah informasi, putting susu tenggelam ( retracted ), atau putting susu datar. Sedangkan masalah menyusui pada masa pasca persalinan dini antara lain putting susu datar ataupun tenggelam, putting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, dan mastitis sampai terjadi abses payudara

( Suradi, 2004).

Salah satu masalah menyusui pada masa nifas adalah bendungan ASI ( engorgement of the breast ). Bendungan ASI terjadi kerena penyempitan duktus laktiferus atau oleh kelenjar- kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna karena kelainan pada putting susu. Keluhan yang dirasakan antara lain payudara terasa berat, bengkak, keras, dan nyeri. Pencegahan terjadinya bendungan payudara sebaiknya dimulai sejak hamil dengan perawatan payudara untuk mencegah terjadinya masalah pada payudara (Mochtar, 1998).

Salah satu cara mengatasi masalah menyusui tersebut dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan kesehatan tentang perawatan payudara. Pendidikan kesehatan merupakan salah satu upaya dalam informasi, pengetahuan pada masyarakat untuk berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan. Dampak yang timbul dari cara ini terhadap perilaku kesehatan masyarakat akan memakan waktu lama. Namun apabila perilaku tersebut diadopsi masyarakat, maka akan langgeng bahkan selama hidup dilakukan ( Notoadmojo, 2003 ). Pendidikan kesehatan pada akhirnya bukan hanya meningkatkan pengetahuan atau kesadaran pada masyarakat saja, namun yang lebih penting adalah mencapai perilaku kesehatan.

B. TUJUAN
Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI sesuai dengan prosedur penatalaksanaan pada masalah payudara bendungan ASI.

Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengkaji data subjektif maupun objektif pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menginterpretasikan data, menegakkan diagnosa, mengenali masalah dan menentukan kebutuhan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa potensial pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menentukan antisipasi tindakan segera dan melaksanakannya pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menyusun rencana tindakan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Mahasiswa mampu menentukan tindakan sesuai rencana yang dibuat.
Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan.
Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan yang telah diberikan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TEORI
1. Anatomi Payudara

Payudara atau mammae adalah struktur kulit yang dimodifikasi, berglandular pada anterior thorax. Pada perempuan mengandung unsur untuk mensekresi susu untuk makan bayi.

Struktur makroskopis

1) Cauda Axillaris

Cauda Axillaris adalah jaringan payudara yang meluas ke axilla.

2) Areola

Areola adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar dan mengalami pigmentasi dan masing-masing payudara bergaris tengah kira-kira 2,5 cm. Areola berwarna merah muda pada wanitayang berkulit coklat, dan warna tersebut menjadi lebih gelap waktu hamil.

3) Papilla Mammae

Papilla Mammae terletak di pusat areola mammae setinggi iga (costa) keempat. Papilla mamae merupakan suatu tonjolan dengan panjang kira-kira 6 cm, tersusun atas jaringan erktil berpigmen dan merupakan bangunan yang sangat peka. Permukaan Papilla Mammae berlubang-lubang berupa ostium papillarre kecil-kecil yang merupakan muara ductus lactifer.

Struktur Mikroskopis

Payudara terutama tersusun atas jaringan kelenjar tetapi juga mengandung sejumlah jarinagn lemak dan ditutupi oleh kulit. Jaringan kelenjar ini dibagi menjadi kira-kira 18 lobus yang dipisahkan secara sempurna satu sama lain oleh lembaran-lembaran jaringan fibrosa.

Setiap lobus tersusun atas bangun sebagai berikut :

1) Alveoli

Alveoli mengandung sel-sel yang menyekresi air susu. Setiap alveolus dilapisi oleh sel-sel yang menyekresi air susu, disebut acini yang mengekstraksi faktor-faktor dari darah yang penting untuk pembentukan air susu. Di sekeliling alveolus terdapat sel-sel mioepitel yang kadang disebut sel keranjang, apabila sel ini dirangsang oleh oksitosin akan berkontraksi sehingga mengalirkan air susu ke dalam ductus lactifer.

2) Tubulus Lactifer

Tubulus Lactifer merupakan saluran kecil yang berhubungan dengn alveoli.

3) Ductus Lactifer

Ductus Lactifer adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa tubulus lactifer.

4) Ampulla

Ampulla adalah bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang merupakan tempat penyimpanan air susu. Ampulla terletak di bawah areola.

2. Fisiologi Laktasi

Proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI dinamakan laktasi. Ketika bayi menghisap payudara, hormon oksitosin membuat ASI mengalir dari dalam alveoli melalui saluran susu menuju reservoir susu yang berlokasi di belakang areola, lalu ke dalam mulut bayi. Pengaruh hormonal bekerja mulai dari bulan ketiga kehamilan, dimana yubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara (Saleha, 2009).

Produksi Air Susu Ibu

Prolaktin merupakan hormon yang disekresi oleh glandula pituitari anterior, penting untuk produksi air susu ibu. Dalam sirkulasi maternal kadar hormon ini meningkat. Kerja hormon ini dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepasnya pada akhir proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tingkat pada dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin (verralls, 1997)

Pengeluaran Air Susu

1) Reflek Produksi

Hisapan bayi pada payudara merangsang produksi hormon prolaktin yang akan menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan disiapkan dalam lumen. Pembendungan ASI yang terjadi dalam alveolus akan menyebabkan adanya penekanan pada pembuluh darah, sehingga akan menyebabkan penurunan prolaktin dalam darah sehingga sekresi ASI berkurang (Mommies, 2006)

Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari kurang seringnya menyusui atau memerah payudara, bayi tidak bisa menghisap secara efektif dan kurangnya gizi ibu. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah frekuensi pemberian susu, berat bayi saat lahir, usia kehamilan saat melahirkan, usia ibu dan paritas, stress dan penyakit akut, merokok, mengkonsumsi alkohol dan penggunaan pil kontrasepsi (Saleha, 2009)

2) Reflek Let Down

Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor kejiwaan ibu dan proses produksinya dapat terhambat jika ibu lelah, merasa malu atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.

Faktor-faktor yang akan meningkatkan reflek let down antara lain : melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi dan memikirkan untuk menyusui bayi (saleha 2009).

3. Masalah yang Sering Timbul Dalam Masa Laktasi

Masalah yang biasanya timbul dalam pemberian ASI yang disebabkan karena masalah pada payudara antara lain : puting susu rata, puting susu lecet, bendungan payudara, saluran ASI tersumbat, mastitis dan abses payudara. Dan masalah yang sering timbul dari faktor bayi antara lain : bayi bingung puting dan enggan menyusu. Sedangkan masalah lain yang sering timbul adalah adanya sindrom ASI kurang dan ibu bekerja (sarwono, 2005).

4. Engorgement
Pengertian

Engorgement yang biasa disebut dengan payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI yang tidak lancar karena bayi tidak sering menyusu atau terlalu cepat disapih. Dapat pula disebabkan adanya gangguan let down reflex (Sarwono, 2005).

Gejala

Gejala yang biasa muncul bila engorgement terjadi antara lain peyudara terasa penuh, panas, berat dan keras, tidak terlihat mengkilat, edema atau merah. ASI biasanya mengalir lancar dan kadang-kadang menetes keluar secara spontan, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sngat nyeri. Ibu kadang-kadang menjadi demam, namun biasanya akan hilang dalam 24 jam (Tanaya, 2006).

Penyebab

1) Faktor Hormon

Proses pembentukan ASI dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon oksitosin dan hormon prolaktin. Ketika payudara mulai digunakan untuk menyusui, dibawah areola terdapat saluran yang melebar yang disebut sinus lactiferus yang berfungsi untuk menampung air susu (Rianto, 2009)

Setelah bayi lahir dan placenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini fungsi dari hipotalamus yang menghalangi pituitary lactogenic hormone ( prolaktin ) waktu hamil sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkannya dibutuhkan reflek yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut (Sarwono, 2005)

2) Hisapan Bayi

Proses menyusui tergantung 2 reflek (Sarwono,2005), yaitu :

a)Reflek produksi

Hisapan bayi pada payudra merangsang produksi hormon prolaktin yang akan menyebabkan sel-sel sekretori dan alveoli untuk memproduksi susu yang akan disiapkan dalam lumen

b) Reflek let down

Hisapan bayi pada payudara dapat merangsang produksi hormon oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi sel yang terdapat dalam lumen, masuk ke dalam sinus lacteal di daerah areola. Reflek let down ini sangat sensitif terhadap faktor kejiwaan ibu dan proses reproduksinya dapat terhambat apabila ibu lelah, merasa malu, atau tidak pasti. Produksi ASI akan lancar apabila ibu merasa bangga dan yakin akan kemampuannya menyusui.

3) Pengosongan Payudara

Ketika susu mulai masuk menggantikan kolostrum pada hari setelah persalinan, payudara akan menjadi lebih besar, lebih berat dan lebih empuk karena bertambahnya getah bening dan suplai darah. Pada saat ini akan terjadi bendungan ASI apabila ibu tidak cukup sering menyusui bayinya dalam jarak waktu yang lama dan jika menghentikan penyusuan secara mendadak atau payudara tidak dikosongkan secara memadai (Nellson,1995).

Apabila ASI berlebihan sampai keluar memancar, maka sebelum menyusui diusahakan ASI dikeluarkan terlebih dahulu, untuk menghindari bayi tersedak atau enggan menyusu. Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan cara : pengeluaran ASI dengan tangan dan pengeluaran ASI dengan pompa.

4) Cara Menyusui

Menyusui merupakan proses ilmiah dan kadang terlihat amat sangat sederhana, namun bila dilakukan dengan cara yang salah akan menyebabkan terjadinya puting susu lecet, air susu tidak keluar dengan sempurna sehingga akan terjadi pembendungan air susu (Inggrid, 2006)

Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya, seperti caranya menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, hisapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih banyak lagi masalah yang lain. Terlebih pada minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam kehidupannya atau orang yang disegani, seperti suami, keluarga/ kerabat terdekat atau kelompok – kelompok ibu pendukung ASI dan dokter/ tenaga kesehatan (Christine, 2005)

Saat kembali bekerja, usahakan memerah ASI dan kedua belah payudara minimal empat jam sekali sebanyak tiga kali selama jam kerja (Saleha, 2009).

a)Posisi menyusui

Posisi yang nyaman untuk menyusui sangat penting. Lecet pada puting susu dan payudara merupakan kondisi tidak normal dalam menyusui, tetapi penyebab lecet yang paling umum adalah posisi dan perlekatan yang tidak benar pada payudara (Varney, 2007)

1.Posisi Madona ( menggendong )

Bayi berbaring miring, menghadap ibu, kepala, leher, punggung atas bayi diletakkan pada lengan bawah lateral payudara. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

2. Posisi Menggendong – menyilang

Bayi berbaring miring, menghadap ibu. Kepala, leher dan punggung atas bayi diletakkan pada telapak kontralateral dan sepanjang lengan bawahnya. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara jika diperlukan.

3. Posisi football (atau “mengempit”)

Bayi berbaring miring atau punggung melingkar antara lengan dan samping dada ibu. Lengan bawah dan tangan ibu menyangga bayi. Ibu menggunakan tangan sebelahnya untuk memegang payudara.

4. Posisi Berbaring Miring

Ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Posisi ini merupakan posisi paling nyaman bagi ibu yang menjalani penyembuhan setelah melahirkan secara secsio sesaria (Murkoff, 2002 )

b) Lama dan frekuensi menyusui

Rentang frekuensi menyusui yang optimal adalah antara 8-12x setiap hari. Tetapi sebaiknya menyusui bayi tanpa dijadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusi bayinya jika bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, digigit semut/ nyamuk, BAB ) atau ibu sudah merasa ingin menyusui bayinya.

Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam ( Inggrid, 2006 ).

Untuk menjaga keseimbangan kedua payudara diusahakan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI tetap baik. Setiap menyusui dimulai dari payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu mengunakan BH yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.

c. Pencegahan dan Penanganan Engorgement

Sekitar hari ketiga setelah melahirkan, sering kali payudara terasa penuh, tegang dan nyeri. Kondisi ini disebabkan karena adanya bendungan pada pembuluh getah bening. Ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Jika keadaan ini berlanjut, maka kulit payudara akan tampak lebih mengkilat dan sering ibu sampai mengalami demam (Suradi 2008 )

1) Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya engorgement apabila memungkinkan, susukan ASI pada bayi segera setelah lahir dengan posisi yang benar, menyusui bayi tanpa jadwal, keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi ASI melebihi kebutuhan bayi, melakukan perawatan payudara pasca melahirkan ( postpartum ) secara teratur serta ibu merasa yakin akan kemampuannya menyusui bayinya dan memberikan ASI pada bayinya.

2) Pentalaksanaan

Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya dan kapas)

Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan secukupnya.
Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk pada sisi areola yang lain.
Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin untuk melancarkan aliran darah payudara
Mengeringkan payudara dengan handuk
Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
Membereskan alat dan mencuci tangan

Apabila bayi belum menyusui dengan baik atau kelenjar – kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna maka akan terjadi engorgement ( Hamilton, 1999 )

Macklin, 1988 dan Subekti, 2005 mengatakan bahwa pasangan yang bekerja cenderung melakukan pembagian tugas – tugas kewanitaan tradisional daripada melakukan pembagian tugas – tugas keluarga dimana salah satu pasangan atau keduanya bekerja, khususnya dalam bidang perawatan anak.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kesibukan keluarga dalam pekerjaan akan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian dalam keluarga, maka dengan adanya kesibukan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian ibu dalam melakukan perawatan payudara sehingga akan cenderung mengakibatkan terjadinya peningkatan angka kejadian kasus engorgement.

Kebutuhan yang harus dipenuhi oleh ibu nifas, antara lain ( Saleha, 2009) :

a) Kebutuhan Fisik

Istirahat cukup
Makan makanan yang bergizi
Sering menghirup udara segar
Lingkungan yang bersih

b) Kebutuhan Psikologi

Stress setelah melahirkan dapat distabilkan dari dukungan keluarga yang menunjukkan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu.

c) Kebutuhan Sosial

Adanya informasi konkret yang sangat berharga dari ibu – ibu yang berpengalaman sehingga ibu – ibu yang kurang atau tidak berpengalaman dapat meniru tindakan ibu yang dianggap baik.

d) Dukungan Psikososial

BAB III

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PATOLOGI HARI KETIGA DENGAN PAYUDARA BENGKAK PADA NY “ S ” USIA 34 TAHUN P3Ab2Ah3 DI BPS

Tempat Praktek :

Nomor MR :

Tanggal/jam :
S

Identitas Pasien

IBU SUAMI

Nama : Ny. S Tn. D

Umur : 34 tahun 34 tahun

Agama : Islam Islam

Suku : Jawa / Indonesia Jawa / Indonesia

Pendidikan : SMP SMP

Pekerjaan : Swasta Swasta

Alamat :

Anamnese

Alasan kunjungan

Ibu nifas hari ketiga mengatakan payudara kanan dan kiri terasa penuh dan nyeri

Riwayat Perkawinan

Kawin 1 kali.Kawin pertama umur 23 tahun. Dengan suami sekarang 10 tahun.

Riwayat Menstruasi

Menarche umur 13 tahun. Siklus 28 hari.Teratur. Lama & hari. Encer. Bau amis. Tak Dismenore. HPM : 13 Desember 2010. HPL : 20 September 2010

Riwayat Obstetri

P3 Ab2 Ah3

Hamil ke

Persalinan

Nifas

Tgl lahir

UK

(mg)

Jenis

Petrsalinan

Oleh

Komplikasi

JK

BB Lahir

(gram)

Laktasi

Komplikasi

Ibu

Bayi
1 th 1998 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3100 ya,asi eksklusif tidak ada
2 th 1999 12 abortus dokter tidak ada tidak ada – – – -
3 th 2003 39 spontan dukun tidak ada tidak ada laki2 3500 ya,asi eksklusif tidak ada
4 th 2008 12 abortus dokter tidak ada tidak ada – – – -
5 21/09/10 40+1 spontan bidan tidak ada tidak ada laki2 3700 ya, untuk saat ini hanya ASI tidak ada

Riwayat Kontrasepsi

No JenisAlkon Mulai memakai Berhenti / Ganti Cara
Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Keluhan
1 Pil Th1998 bidan BPS tidak ada Th1998 Bidan BPS tidak ada

Riwayat Kesehatan

Ibu mengatakan dirinya dan keluarganya tidak menderita penyakit seperti darah tinggi, gula, jantung, asma, dan penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, hepatitis B.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan

Masa Kehamilan : 40+1 minggu

Tempat Persalinan : BPS Sutimah, oleh : bidan

Jenis persalinan : spontan

Komplikasi : tidak ada

Plasenta : lengkap, lahir spontan

Kelainan : tidak ada

Perineum : rupture derajat 2

Perdarahan : kala I : -

kala II : -

kala III : 70 cc

kala IV : 100 cc

Keadaan BBL

Lahir tanggal : 21September 2010 jam 00.50 WIB

PB/BB : 49 cm/3700 gram

Cacat bawaan : tidak ada

Riwayat post partum
Nutrisi

Makan : 3x per hari ; nasi, sayur, lauk, buah

Minum: 9x per hari ; air putih, susu, teh

Eliminasi,

BAB : 1x per hari

BAK : 5x per hari

Istirahat : ½ jam siang, 7 jam malam
Personal Hygiene

Ibu mengatakan mandi 2 x perhari, ganti celana dalam 3 x perhari, ganti pembalut 3 x perhari, cebok dari depan ke belakang

Ambulasi

Ibu sudah bisa jalan-jalan

Laktasi

Asi keluar lancar, payudara terasa tegang dan penuh

Riwayat Psikososial
Pengetahuan ibu tentang proses menyusui

Ibu mengatakan menyusui bayinya dengan posisi duduk ditempat tidur

Pengalaman ibu menyusui pada persalinan yang lalu

Ibu mengatakan pengalaman waktu menyusui pada persalinan yang lalu belum pernah mengalami payudara yang penuh dan terasa nyeri
O

Pemeriksaan Umum

KU : baik

Kesadaran : CM

BB : 65kg

Suhu : 37o C

TD : 110/70 mmHg

Nafas : 20 x permenit

Pemeriksaan Khusus

Kepala

Mata : Sklera putih, konjungtiva merah

muda, tidak ada odem palpebra

Wajah : Segar, tidak pucat, tidak ada odem

Mulut : Bibir lembab, warna merah muda, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid/limfe, tidak ada

bendungan vena jugularis

Payudara

Bentuk : simetris, membesar, payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras

Puting susu : bersih, menonjol

Asi : keluar lancar

Abdomen

Bentuk : dinding perut longgar

Bekas luka : tidak ada

TFU : pertengahan pusat dengan simfisis, teraba keras, kontraksi baik

Ekstermitas

Odem : tidak ada

Varises : tidak ada

Reflek patella : + / +

Genetalia luar

Odem : tidak ada

Varises : tidak ada

Bekas luka : jahitan perineum

Jahitan : masih basah

Sekret : pengeluaran lochea sanguinolenta, berwarna merah, bau amis khas darah, jumlah satu kali ganti pembalut

Anus : tidak ada hemoroid

A

Tanggal 23 September 2010

Diagnosa kebidanan

Seorang Ny ‘S’ umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 2 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik , TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta

Diagnosa potensial

Payudara bengkak karena produksi ASI yang terlalu banyak potensial menjadi mastitis payudara bila tidak segera ditangani
P

Tanggal 23 September 2010

Memberitahukan kepada ibu bahwa kondisi ibu baik, rahim dalam proses kembali ke keadaan sebelum hamil, dan payudara kanan dan kiri mengalami pembengkakan.Ibu mengerti keadaannya bahwa payudaranya bengkak
Melakukan perawatan pada payudara bengkak, serta mengajarkan pada ibu. Mempersiapkan alat (2 buah kom sedang masing-masing diisi dengan air hangat dan dingin, 2 buah waslap, 2 buah handuk, minyak kelapa/baby oil secukupnya dan kapas)
Memberitahu ibu bahwa akan melakukan perawatan pada payudara ibu
Meminta ibu untuk melepas pakaian atas dan duduk tegak di kursi
Mengenakan satu handuk melintang di bawah payudara
Mencuci tangan, lalu menuangkan minyak ke kedua belah telapak tangan secukupnya.
Melakukan masasse ringan dengan telapak tangan dari pangkal ke arah areola
Menekan areola dengan ibu jari pada sekitar areola bagian atas dan jari telunjuk pada sisi areola yang lain.
Mengompres dengan air hangat untuk mengurangi stasis pada pembuluh darah dan mengurangi rasa nyeri, dilakukan selang-seling dengan kompres dingin untuk melancarkan aliran darah payudara
Mengeringkan payudara dengan handuk
Merapikan ibu dan membantu ibu memakai pakaian
Membereskan alat dan mencuci tangan

Perawatan payudara sudah dilakukan

Mengajarkan kepada ibu cara menyusui yang benar dan menganjurkan ibu untuk melakukan perawatan seperti yang sudah dilakukan di rumah untuk mengatasi payudara bengkak yang dialami ibu. Lakukan sesuai kebutuhan / sampai ibu merasa nyaman. Serta menganjurkan ibu untuk menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang bengkak untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan tegangan payudara.

Ibu dapat menjelaskan kembali, dan akan melakukannya di rumah.

Memberitahu ibu bahwa jahitannya masih basah dan menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan alat kelamin dengan cara : cebok dengan sabun kemudian dibilas degan air mengalir sampai bersih dari depan ke belakang, kompres jahitan dengan kassa betadin 1-2 menit / terasa perih supaya jahitan lekas kering dan tak infeksi, ganti pembalut sebelum penuh, serta tidak terlalu sering menyentuh jahitan.

Ibu mengerti cara menjaga kebersihan alat kelamin dan akan melaksanakan sesuai anjuran bidan.

Melakukan kontrak kunjungan ulang tanggal 29 September 2010 untuk kontrol nifas dan mengimunisasikan bayinya atau jika ada keluhan.

Ibu bersedia kontrol nifas dan mengimunisasikan anaknya.

B. PEMBAHASAN

Dari pengkajian data subjektif didapat informasi bahwa payudara terasa penuh dan nyeri,serta dalam data objektif didapatkan hasil pemeriksaan bahwa payudara kanan dan kiri tegang dan agak keras yang merupakan ciri-ciri payudara bengkak sehingga diagnose kebidanannya adalah Seorang Ny ‘S’ umur 34 tahun P3 Ab2 Ah2 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik , TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta.

Dari diagnosa kebidanan yang tepat, maka planning yang dibuat bisa tepat dalam mengatasi masalah. Cara mengatasi payudara bengkak yang dilakukan pada pasien sudah sesuai dengan teori.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil asuhan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa asuhan yang diberikan sesuai dengan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak :

Pengkajian data dilakukan secara menyeluruh yang meliputi identitas, anamnesa, data subjektif dan objektif.
Hasil pemeriksaan didapat TD : 110/70 mmHg, R : 20x/menit, S : 36,7 oC, TFU : pertengahan pusat dengan sympisis, lochea sanguinolenta.
Berdasarkan pengkajian dan pemeriksaan dapat ditentukan diagnosa kebidanannya adalah Ny “S” umur 34 tahun P 3 Ab 2 Ah 3 nifas hari ke tiga, dengan payudara bengkak, kontraksi baik, TFU pertengahan pusat dengan simpisis, lochea sanguinolenta
B. SARAN

Setelah melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan payudara bengkak, penulis menyarankan agar :

Bagi pasien :

Agar ibu jangan sampai takut menyusukan ASInya pada payudara yang bengkak supaya menurunkan ketegangan payudara serta lebih sering menyusui bayinya (on demand)

Bagi mahasiswa dapat menerapkan segala pengetahuan yang didapatkan baik yang di kampus maupun yang di lapangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s