Cap “PLAYBOY”

Sebagai pria tulen dan beranjak dewasa, aku menjaga penampilan dan citra ku. Pesona ku memang membuat hati para kaum hawa terpesona… tapi aku “BUKAN PLAYBOY” mengapa cap itu selalu mengikuti aku… !!! mengapa ??? mengapa ??padahal apa salahku mempunyai wajah tampan?,Aku memang pencinta wanita tapi bukan buaya yang setia pada seribu gadis ku hanya mencintai dia….. “Lagu irwansyah teralun lembut di telingaku”. kalau aku berkata pada wanita aku ingin belajar “making love” aku selalu disangka yang bukan-bukan, padahal aku hanya ingin belajar cara-membuat cinta, cara mencintai dan dicintai..meskipun dalam hati aku kepingin juga…tapi segera kutepis smuanya.. suatu hari aku mengirim SMS ke mbah ROSO untuk bertanya mengapa aku di cap playboy. beliau kemudian menanyakan tentang wetonku. “weton tuh apa?” tanyaku.”aduh, ente ini bijimanska seh? masa weton aja ga tau? Weton itu tuh..”.Akhh… sudahlah……..!!! aku ingin coba dengan cara ku sendiri tanpa harus tergantung dengan apa dan siap pun….. !! Gw pasti bisa menyakinkan Anisa bahwa cuma ia yang aku cintai.Aku bergegas mandi, tidak lupa gosok gigi. Kemudian berganti pakain yang paling necis dan trend terkini. Semprot parfum sana sini, yakin harum, jalaaaaaaaaaan. Ku yakin, Annisa menungguku di tempat yang sama. Ketika ku sampai, aku tidak melihat annisa. kutunggu dirinya. 1 jam.. ia belum datang. 2 jam… aku masih tak melihatnya. 3 jam… aku lupa bahwa aku belum mengunci pintu belakang.Dengan dua perasaan yang menyergap hatiku, ku coba untuk lebih bersabar menantinya. Harapanku, ada makna dibalik ini semua. Mungkin kutunggu lima menit lagi, andai Annisa tidak datang jua, setelah kukunci pintu rumahku, biarlah kutelepon dia.Telepon? Di mana tadi aku menaruh telepon ya? Haduh, nyelip ke mana HP-ku? Dengan perasaan kalut, aku terus saja mencari HP-ku. Rogoh kantong celana kanan, kiri, tas, semua sudah kurogoh. Celingak celinguk seperti orang bodoh. Lihat di got mungkin jatuh di sana. Byurr! “Alamak, kenapa aku mendarat di sini!” pekikku.Ternyata aku mendarat darurat di kasur mbok ijah,,”Oh, hanya mimpi toh?!?” gerutu saat itu. “Untung saja ini hanya mimpi. Andai benar terjadi, entahlah alasan apa yang bisa kukatakan pada Annisa. Annisa..oh Annisa, bidadariku…”, kataku kemudian sambil ku menari-nari bahagia. Sementara itu kulihat jam di dinding. Oh My God! Sudah jam 1 siang! Apakah Annisa masih menungguku?? “Duh, gawat!!! Ku terlambat lagi nih…! Kenapa ku banyak berfantasi sejak tadi. Menyebalkan…!! live is real..huhhh”, gerutuku kesal sambil berjingkat-jingkat memakai sepatuku dan menyabet kunci motor yang terletak di atas meja belajarku.Aku langsung melesat ke tempat pertemuanku dengan Anissa, berharap ia masih menungguku. Tapi ternyata.., “lho…, Annisa dengan siapa di sana ya? bukannya janjiannya hanya denganku? Lantas siapa laki-laki yang sedang duduk berdampingan dengannya itu?” pekikku dalam hati menahan geram yang merasa tersulut di hati.Alamak, setelah kudekati ternyata lelaki itu hanyalah sebuah patung… barulah aku baru menyadari aku lupa memakai kacamata ku…. belum selesai kaget ku, ternyata wanita itu bukan lah Annisa, melainkan nenek2 yang sedang mengantri burger. “Alhamdulillah… Kupikir aku didahului Annisa. Malu rasanya kalau sampai ke duluan dia. Kan, aku yang buat janji”, bisikku dalam hati sambil tertawa kecil.Tak lama kemudian hapeku berdering.tiririririririririt! titititititit!! wah, ada telepon dari Annisa!!”Ya halo? Annisa?”.”bukan Annisa, Agus2… Woalaaah, Agus ikki”. “eh apa kabar Gus?”.”Baik..baik. Ini siapa ya?” sahut suara Agus dari hp. “Nah lho, bukan njenengan yang mau menelepon saya? Lah, kok malah balik bertanya?” Jawabku kesal. Tiba-tiba suara telepon ditutup dari seberang. “Woo, wong edan!” Gerutuku kesal.Tanpa kusadari Annisa telah ada didepan ku… kulihat mukanya sedih, menahan tangis… “ada apa gerangan??” tanyaku dalam hati…”Maaf ya mas. Hari ini kita tidak jadi kencan saja, ya??” Katanya sambil terus terisak. “Lho, ada apa dik?” tanyaku lembut. “Kucingku, si Doni mati tertabrak Motor di depan rumahku tadi,” Teriaknya seketika dan tangisnya pun pecah.Begitu kencangnya tangis Annisa sampai orang2 disekitar mengalihkan pandangan mereka ke arah ku… Untuk beberapa saat aku jadi salah tingkah, untunglah tiba2 kejantanan ku muncul.. Kudekati Annisa dan kupeluk dia… “Tenanglah Annisa” bisik ku… “Sudah… sudah.. Aku tidak jadi menangis. Jangan memanfaatkan peluang yang ada ya!” Omel Annisa diantara air matanya yang masih saja berlinang. Ada raut kesal yang ia tujukan padaku. “Alamaaak.. kasus nih!” bisikku dalam hati.Dari dulu aku memang tidak pernah bisa mengerti wanita, aku tidak tahu harus berbuat apa dengan Annisa.. Setiap tindak tanduk ku selalu saja salah…. akhirnya aku hanya dapat terdiam memandangi Annisa…”Ayo, jadi tidak menemaniku ke rumah untuk menguburkan si Doni. Karena kebetulan, tidak ada yang bisa membacakannya doa-doa. Kuingin, si Doni diterima disisi-Nya,” Ajak Annisa tegas. Aku hanya bisa meng-angguk2 mengiyakan Annisa… Tapi tunggu dulu, pikirku kemudian… Sejak kapan Annisa punya kucing bernama Doni?… Aku masih tidak dapat mengingat hal itu, tapi untuk menyenangkan Annisa, kuturuti saja kemauannya…Sesampainya di rumah Annisa, aku hanya mematung tanpa dipersilakan duduk. Lama dan lama sekali, sampai serasa dengkul ini mau lepas. Annisa pun tak terlihat batang hidungnya semenjak masuk ke ruang belakang.Kemudian kucoba memanggil Annisa.. tapi tidak ada jawaban… kuberanikan diri masuk keruang belakang, dan betapa terkejutnya aku mendapati Annisa yang ternyata sedang tidur…Tampak dari raut wajahnya, terlihat lelah yang amat sangat. Mungkin memang benar, si Doni kucing yang amat ia sayangi. Sisa-sisa kering airmatanya masih saja tampak membekas di pipinya.seperti juga gambar di pipi, bekas tanda tanganmu… Pulangkan saja aku pada ibuku.. atau ayahku… Dulu bersumpah janji di depan saksi…lagu itu terdengar dari TV di depan Annisa, kemudian aku mencoba berjalan untuk mematikan TV tersebut agar Annisa dapat tidur dengan lelap, sialnya aku malah terpeleset dan jatuh menimpa Annisa..Brukk!! Badanku pas sekali menimpa Annisa yang sedang tertidur lelap. “Duh, sakiiit,” celetuk Annisa saat terbangun dari tidurnya. “Maaf Nis, aku tidak sengaja,” Jawabku saat itu juga.Kumulai dengan membuka kancing teratas. (dejavu).”Kamu kenapa sih? Aneh… Kalau gerah kan tinggal nyalakan AC saja. Tuh, remotenya di sana!!” omel Annisa padaku. Annisa, lalu terbangun dan segera menyiapkan segala perlengkapan untuk pemakaman kucingnya, si Doni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s