Cara Bijak Sikapi Perkawinan Beda Keyakinan

Pergaulan yang luas dan hidup di tengah masyarakat yang majemuk memungkinkan anda berkenalan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Suatu waktu, anda bertemu dengan seseorang wanita/pria yang memikat hati anda. Sementara anda adalah orang yang pintar dengan predikat lulusan cumlaude dari sebuah universitas terkenal. Anda boleh dikatakan orang yang baik dan penuh keramahan. Berkali-kali mencoba untuk mendapatkan cinta gadis yang seagama dengan anda, yang menurut anda adalah gadis yang baik dan taat beribadah. Setiap kali anda mencoba untuk menyatakan cinta, setiap itu jua sang pujaan menolak. Suatu ketika anda bertemu dengan seseorang wanita yang menaruh perhatian kepada anda. Bertemu hampir setiap hari membuat hubungan semakin dekat. Ia menerima anda apa adanya, dan anda-pun begitu terpesona dengan kebaikan serta tutur kata-nya yang sopan. Anda begitu mengagumi kecerdasannya, merasakan ada cinta kepadanya, dan menyukai perilakunya. Cuma satu yang membedakan anda dengan dia, yakni masalah agama.

Nikah beda agama, adalah tema yang cuba saya angkat pada kesempatan postingan kali ini. Hidup di tengah masyarakat plural akan mengenalkan kita dengan banyak tipelogi manusia yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, etnisitas, pendidikan ataupun pekerjaan. Untuk masalah etnisitas, pendidikan ataupun pekerjaan tak lagi menjadi masalah bagi banyak orang, kecuali beberapa orangtua yang masih berpikiran sempit, menginginkan anaknya menikah dengan etnis sendiri, sang calon harus lulusan sarjana dan bekerja sebagai PNS. Namun, persentasi orang yang berpikiran “kolot” seperti ini agaknya tinggal sedikit.

Berbeda halnya dengan agama. Secanggih dan seterbuka apapun zaman saat ini, tetap saja persoalan agama menjadi area yang sensitif. Secara umum, orang takut untuk melakukan nikah beda agama. Meskipun ada beberapa yang karena alasan cinta, mencoba menghadang common sense nikah seagama.

Dari perspektif Islam, ada sebuah literasi teologis yang mengatakan, “Lebih baik kamu menikahi muslimah yang berstatus budak, berparas jelek, berkulit hitam legam, sama sekali tidak menarik pandanganmu  daripada menikahi wanita kafir, sekalipun ia cantik bak bidadari.” Banyak orang yang berada di kubu penolak nikah beda agama memakai pernyataan teologis ini untuk menghakimi orang-orang yang melakukan nikah beda agama.

Secara naluriah, manusia akan lebih cenderung kepada sosok yang berparas menarik. Namun, perspektif teologis di atas membalikkan semua itu. Landasannya adalah “menjaga agama lebih utama daripada mendapatkan kenikmatan fisik.” Agama tak hanya berlaku di dunia, tapi akan dibawa ke akhirat. Berbeda dengan fisik, yang akan memudar seiring bertambahnya umur.

Namun, alur berpikir eskatologis agama terkadang kalah dengan kekuatan cinta. Bukankah cinta juga sesuatu yang berpotensi menjadi abadi jika dijalani dengan sepenuh hati? Bukankah cinta sama dengan agama yang diturunkan Tuhan ke dalam hati manusia? Kalau begitu, apakah salah memilih untuk menjalin ikatan lewat pernikahan dengan seseorang yang berlainan agama?

Sesuatu yang tak dapat dipungkiri adalah seringkali kita bertemu dengan the others (orang yang berlainan agama dengan kita) tetapi lebih hangat, penuh perhatian, dan begitu baik dibandingkan “saudara seiman”. Terkadang rasa simpati itu menimbulkan rasa suka. Ketika tak mampu lagi berpisah, beberapa orang memilih untuk menikahi pasangan yang berbeda agama dengannya. So, apakah itu salah?

Kalau reseach tentang pernikahan beda etnis sudah dilakukan oleh para ilmuan dan menghasilkan temuan positif bahwa pernikahan beda etnis akan melahirkan generasi unggul, sejauh pengetahuan penulis, belum ada reseach komprehenisf  terkait kelanggengan rumah tangga dua insan yang berbeda agama.  Selama tak ada penjelasan ilmiah tentang sisi negatif pernikahan beda agama, agaknya kita tidak bisa menghakimi mereka yang memilih melakukan sesuatu yang tidak “lazim” ini.

Filsafat mencoba mengubah cara berpikir seseorang dari karakteristik “MENGHAKIMI” menjadi perspektif “MEMAHAMI”. Orang yang terjebak pada sikap penjustifikasian, akan sibuk menimbang-nimbang kesalahan yang dilakukan orang lain. Sementara tipelogi memahami, akan lebih terbuka untuk menerima “keganjilan-keganjilan” yang tak biasa dilakukan masyarakat. Sehingga semua berpulang kepada masing-masing orang. Sebagai makhluk rasional, manusia telah dibekali kemampuan untuk memilih. Dalam konteks ini manusia bebas, apakah mau mengedepankan AGAMA atau mengikuti “CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s