Kamu Bohong dan Munafik…Aku Harus Meninggalkan Kamu

Aku masih ingat saat pertama kali aku menyentuh dirimu. Saat itu adalah suatu siang di musim kemarau Kamu tiba-tiba saja masuk ke rumahku. Jantungku berdebar sebab lama sudah sejak pertama kali aku melihatmu dan selalu menantikan saat yang tepat untuk bisa bertemu. Tanpa basa basi akupun tergesa-gesa membawamu ke halaman belakang rumah. Aku harus berhati-hati dan mengendap sambil mendekapmu karena aku tidak ingin ada seorang pun melihat apa yang akan kulakukan pada dirimu saat itu.

Halaman belakang rumahku hanyalah sebuah lorong sempit yang diapit oleh dinding bagian belakang rumahku dan rumah tetangga. Adrenalinku begitu terpacu ketika tanganku terus mendekap tubuh rampingmu. Aku tidak kuasa menahan bibirku untuk tidak segera menyentuhmu. Oh, Tuhan..Sentuhan pertama itu begitu membuatku melayang. Kenikmatan yang kurasakan saat itu semakin membawa diriku terbang ke langit. Terlebih lagi ketika aku sadar bahwa saat itu aku belum pantas berhubungan denganmu. Apa yang akan mereka katakan jika melihat aku mencumbuimu saat itu? Aku tidak peduli. Yang jelas, sentuhan pertama itu selalu membuatku mencari-cari waktu untuk bisa mencumbuimu lagi.

Tapi sayang, kita belum bisa sering bertemu. Saat itu aku belum memiliki penghasilan untuk bisa sering mendekati dan merayumu. Aku juga masih ingat saat suatu malam di kamar tidurku ketika bibirku sedang mencumbuimu, ayahku tiba-tiba masuk dan hanya memandang heran. Sepertinya beliau tidak terlalu marah. Saat itu aku berpikir mungkin beliau pernah melakukan hal yang sama dulunya sehingga bisa memaklumi apa yang kulakukan pada dirimu saat itu. Sikap ayahku itu membuatku berpikir untuk tetap melanjutkan hubungan denganmu dan seperti yang telah kamu tahu, sejak saat itu hubungan kitapun semakin dalam.

Waktu berlalu dan sepertinya hubungan kita tidak berjalan baik. Aku masih ingat bahwa pernah beberapa kali aku mencoba untuk meninggalkanmu karena kamu sering menyakitiku. Tapi kesetiaan dan kesabaran kamu membuatku bertahan. Kamu selalu ada mendampingiku setiap saat aku mengalami kegetiran dalam hidup. Aku tidak bisa meninggalkanmu dan bibirku kembali mencumbui tubuh rampingmu.

Ada kehangatan yang selalu kurasakan saat musim yang dingin ketika aku bersamamu dan mencumbu dirimu. Aku tidak bisa lepas dari dirimu. Masih ingatkah kamu saat bulan Ramadhan? Saat sebenarnya kita tidak boleh saling cumbu? Tapi aku tidak pernah peduli. Yang aku tahu adalah diriku tidak pernah bisa menahan gejolak dari dalam untuk bisa selalu mencumbuimu saat itu.

Tanpa terasa 17 tahun telah kita lalui dan selama itu pula kamu telah menemaniku setiap saat. Tapi sekarang, aku sadar kamu munafik, kamu pembohong, kamu tidak pernah mau jujur kepadaku. Kamu tidak pernah mengatakan sekalipun kepadaku bahwa aku akan sakit jika terus berhubungan denganmu. Kamu selalu membuatku mengingat dan menginginkan dirimu pada saat sedikit demi sedikit kamu menanamkan rasa sakit dalam diriku. Semua ini membuatku sadar tentang kebenaran yang sering dikatakan oleh orang-orang disekelilingku bahwa lebih baik aku tidak pernah berhubungan denganmu.

Aku menyesal, karena dulunya aku tidak pernah peduli dengan apa yang mereka katakan. Karena saat itu mencumbuimu adalah sebuah kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Memang itu harus kuakui. Tapi, saat ini aku harus bisa mendengarkan logika dan pikiranku ketimbang perasaan yang hanya ingin dekat dan selalu bersamamu. Logikaku berkata kita harus berpisah. Pikiranku berkata, sudah cukup kamu bersamaku. Aku sakit. Aku menderita. Maaf, jika aku juga harus berkata kepadamu bahwa sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu selama ini. Yang ada hanyalah nafsu dan gairah untuk bisa selalu mencumbu bibirku ditubuhmu yang ramping itu.

Maaf, kita harus berpisah. Lupakan saat-saat indah kita. Lupakan saat-saat kamu selalu ada untuk memberiku kenikmatan ketika aku terbangun di malam hari. Aku harus pergi darimu.

Tapi…aku tidak tahu bagaimana caranya. Setiap kali aku pergi meninggalkanmu, aku selalu kembali menjemput dan mencumbuimu. Aroma tubuhmu begitu menggoda. Katakan…katakan kepadaku bagaimana caranya agar aku tidak lagi mencarimu. Katakan bagaimana caranya agar aku bisa berpisah dari dirimu. Aku sakit. Tolong, jangan dekati aku lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s