JIWA YANG KESEPIAN

Hampir setiap pagi kulihat dia terbaring disana. Ditengah kota yang begitu padat,pengap dan penuh sesak. Dia seakan tidak peduli terhadap orang yang berlalu lalang melewatinya. Entah karena sudah terbiasa dengan keadaan itu atau mungkin karena memang sudah tidak berdaya. “Selamat pagi!” kusapa beberapa rekan kerjaku. Setelah sampai dimeja kerjaku, aku mulai melanjutkan polesan make up ku yang sempat tertunda. Aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukannya. Mulanya aku hanya tidak ingin mendengar kritikan itu lagi tapi lama kelamaan aku sangat menikmati riasan wajahku ini. Entah karena Cuma ingin dibilang cantik atau memang sudah menjadi bagian dari kebiasaan baruku. Entahlah…

Setelah matahari mulai meninggi cacing-cacing didalam perutku mulai memanggil satu persatu. Aku bergegas keluar untuk makan siang. Dan seperti biasa aku akan makan diwarung bu Parmi lagi. Tidak ada alternatif lain jika aku lupa membawa bekal makan siang ataupun lupa titip membeli nasi bungkus dengan temanku. Cuaca kali ini begitu panas menyengat. Kupercepat laju langkahku agar kulitku tidak terbakar sinar matahari terlalu lama. Pandangan dan pikiranku saat ini tidak pada warung bu Parmi, cacing-cacing dalam perutku yang terus bersahutan, ataupun panasnya udara siang ini. Langkahku sedikit kupelankan. Kuperhatikan dia yang selalu kulihat tiap pagi terbaring dipinggir jalan itu. Dia tidak bergeming. Aku lebih mendekatinya lagi. “apakah dia sudah mati?” tanyaku dalam hati. Pertanyaanku itu tiba-tiba buyar ketika dia menggerakkan kepalanya. Kemudian menyeret tubuhnya dengan begitu berat. Pelan tapi pasti menuju tempat yang lebih teduh. Hatiku begitu miris. Dia begitu lusuh, kurus dan raut wajah yang tidak menginginkan hidup seperti ini lagi. Menyedihkan sekali hidupnya. Hidup sudah sebatang kara, tidak berdaya, tidak memiliki apa-apa,siapa-siapa, ditambah dengan waktu yang semakin menginginkan jiwanya. Dia tahu aku memperhatikannya. Dengan sorot mata yang hampa dia menatapku. Kutelan ludahku dalam-dalam. Aku ingin mengatakan padanya, “maaf, aku tidak bisa membantu apa-apa.” Tapi apa dia akan mengerti dengan maksud ucapanku itu. Jadi kuputuskan melewatinya sambil menutup mataku. Sama seperti orang lain yang melewatinya dengan pandangan tidak peduli atau memang tidak tahu akan keberadaannya.

Keesokan harinya dia juga terbaring ditempat yang sama seperti pagi-pagi kemarin. Dan siangnya ketika aku hendak balik kembali kekantor setelah makan siang aku duduk disebelahnya. Kali ini aku tersenyum. Kusodorkan bungkusan berisi roti padanya. Dia hanya menatapku dengan tatapannya seperti biasa. Begitu kosong. “ayo, makanlah… kamu belum pernah memakan roti ini kan? Rasanya enak sekali, didalamnya isi sosis. Ayo, tidak usah malu-malu.” Perlahan dia menarik bungkusan yang kuberikan tadi. Lalu dia memakannya sedikit demi sedikit. “kamu pasti begitu susah hidup seperti ini. Suatu saat nanti aku juga akan hidup seperti kamu. Kesepian dan tidak berdaya.” Aku mencium aroma yang tidak sedap. Kurasa dia pasti lupa kapan terakhir dia mandi. Kulihat wajahnya begitu berbinar. Tampak berkaca-kaca. “sudahlah, tidak usah mengucapkan terima kasih padaku. Cuma ini yang bisa kulakukan untukmu.” Ujarku mengakhiri obrolanku sembari meninggalkan air putih untuknya. “ sampai jumpa besok,ya…”
Pagi ini aku datang lebih awal karena aku mendapatkan giliran piket. Kulirik dari kejauhan dia tampak seperti biasa, seperti pagi-pagi yang telah lewat terbaring dipinggir jalan dengan bermandikan cahaya pagi hari yang begitu hangat. Namun,Siang hari ini tidak seperti biasa, aku tidak makan siang diwarungnya bu Parmi. Siang ini aku harus menjemput anakku pulang dari sekolahnya.  “maaf, dek. Komang ga bisa jemput luna hari ini. Didalung ga ada yang jaga.” Kira-kira itu saja yang kudengar dari handphoneku sebelum adikku menutup teleponnya.
Segala sesuatu berjalan dengan lancar hari ini. Hanya saja hari ini aku tidak sempat memperhatikan dia yang terbaring tidak berdaya ditengah hidup yang semakin hari semakin kejam saja. Aku merapikan peralatan kerjaku yang sedari tadi berserakan sana-sini. Waktu semakin sore, aku semakin bergegas merapikan meja kerjaku. Setelah semua kelar aku berbincang sedikit bersama rekan-rekan kerjaku sambil menunggu jarum jam pada mesin absensi menunjuk pukul 17:01 wita. Kami bersenda gurau sambil menuju parkiran kantor kami.
“duluan ya…” semua saling memberi salam perpisahan. Aku masih mencari-cari kunci motorku. Hah, tasku ini. Sudah terlalu penuh dengan kertas-kertas aneh yang kukumpulkan. Tiba-tiba kulihat bayangan dia yang terbaring itu melintas didepanku. Aku mengejarnya. “hei, tunggu.” Aku pikir dia sudah sehat setelah kuberikan sepotong roti kemarin. Dia sudah bisa bangun dan berlari, aku begitu senang. Langkahku seketika terhenti ditempat dia terbaring itu. “bukankah, sekarang sudah begitu sore, kenapa dia masih terbaring disana?” tanyaku dalam hati. Aku mendekatinya perlahan. “hai, teman. Kenapa masih terbaring disini. Kalau malam tiba jalanan akan semakin gelap. Kendaraan tidak akan menyadari keberadaanmu disana. Kamu bisa dilindas oleh mereka. Bangunlah, kawan. Aku punya biskuit enak untukmu.” Dia tetap saja tidak bergeming. Apa dia marah padaku karena tidak memberikannya makanan siang ini?
“permisi mbk.” Seseorang membangunkan aku dari lamunanku.
“percuma mengajaknya ngomong dia sudah mati.” Laki-laki bertubuh besar itu menyeret tubuh yang terbaring itu dan melemparnya kedalam mobil sampah.
“pak, anda kasar sekali. Anda akan membawanya kemana?” aku menarik baju laki-laki besar itu dengan memasang muka yang seram.
“mbak sudah gila ya. Ngomong kok sama mayat anjing. Ya, mayatnya dibawa ke tps trus dibakar sama sampah-sampah itu.” Dia menunjuk mobil dengan sampah yang menjulang tinggi.
Hatiku semakin miris saja. Begitukah nasibnya. Mungkin dari lahir sudah terbuang. Menjalani hari-harinya diantara tumpukan sampah, berkelahi memperebutkan makanan demi melangsungkan hidup dan berakhirpun ditempat sampah. Adakah hidup seperti itu. Setidak layak itu. Hanya seekor anjing yang terbuang yang selalu mendapatkan nasib seperti itu. Padahal, jika kita ingin bersahabat dengan mereka, mereka adalah binatang paling setia dimuka bumi ini. Sekali saja kita memberikan sesuap nasi dengan tangan ini seumur hidup mereka akan mengingat kita. Lalu siapakah yang patut disalahkan atas nasib anjing tua yang menghabiskan sisa umurnya dipinggir jalan raya karena ketidakberdayaannya menghadapi hidupnya yang kejam. Entahlah…
Aku hanya menatap dia dibawa oleh mobil sampah itu. Menatapnya dengan pandangan yang kosong  sama ketika dia berjuang menghadapi sisa umurnya dipinggir jalan tanpa seorangpun yang tahu dan peduli kepadanya. Aku perlahan melambaikan tanganku. Selamat jalan kawan. Kamu telah berhasil melewati masa-masa sulit dalam hidup ini. Istirahatlah dengan tenang. Semoga kau mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik dari hidupmu yang telah lewat. Mobil sampah itu kemudian menghilang seolah-olah ditelan oleh kendaraan yang berlalu lalang tiada henti.
oleh;wulans yue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s